UNINSTALL FEMINIS DAN PARTRIARKI
Uninstall feminis dan partiarki
merupakan aspirasi dalam menutup ruang negatif yang terjadi atas dasar
miskonsepsi, inorientasi dan paham dari keduanya, kekhawatiran akan peradaban
yang mundur adalah tujuan utama dalam tagline uninstall, kendati memang dapat
melahirkan lebih banyak lagi hal yang berkonfrontasi, namun pada era
kontemporer ini justru di maknai dengan aspirasi tanpa teori dan negasi. Hal
yang didudukan pada narasi subjektif dan tidak lagi menuju pada kritik pada
hukum yang melatarbelakangi perilaku manusia (antropologi forensik),
sehingga kemudian hal hal yang seharusnya direkonstruksi atau mungkin lebih
tepatnya didekontruksi tidak diperhatikan secara kontiunitas. Seperti hal nya intitusi
pendidikan, sistem keluarga, lembaga hukum, dan perkawinan tidak mengalami
perubahan yang signifikan, secara fundamental struktur yang menyusun konsepsi
moral atau etiket adalah intitusi yang terpolariasi dengan semangat misoginis
dan phallocentris menjadi alasan dunia ini dimaknai sebagai dunia
buatan. adapun klausul yang terjadi pada era kontemporer antara lain:
1. 1. Feminisme
memiliki kesamaan dengan LGBTQ+ dalam memandang gender sebagai Social Things,
bukan Natural Things (sedangkan, physical manusia dibentuk juga
menyesuaikan dan disesuaikan oleh kondisi psychologis - sebagai
aforisme, wadah bak mandi tidak mungkin diisi dengan debit sebanyak air di
danau)
2. 2, Feminisme
mengalami disorientasi, dari ranah pendidikan dan pekerjaan, menjadi ranah
individual partikural yang tidak bisa diselesaikan secara universal sehingga,
perempuan hari ini menggunakan term feminis sebagai excuse untuk
melakukan atau tidak melakukan hal yang semestinya dilakukan oleh perempuan
3. 3. Narasi
child free mencederai peace of life, bahwa hal yang di jadikan bahan
meruapakan teriakan atas dasar naturalisme, kendati kondrat atau hal apriopri
itu disertakan kuasa tuhan, sehingga merubah peta yang seharusnya naturalistik.
Kendati partiarki sudah mati, namun semangat feminis masih
kerap menyuarakan aspirasi subjetif nya, bahwa dalam strata sosial perempuan
mesti dilabeli makhluk unggul dari lini domestik dan publik (double burden),
walaupun pada realitanya hal yang mulai membaik sebelum disintegrasi itu
terjadi. Pada kesempatan tertentu klausul yang sensitif ini dapat di analisis melalui
konsep dasein milik martin heiddeger. Bahwa loncatan ke dalam (leaping in)
menjanjikan perempuan mendapatkan ruang nya, namun pada loncatan keluar dan
kedalam (leaping ahead) menjadi dasar opresi perempuan dalam menyajikan
tuntutan atas hak, kesempatan dan peluang. Tentu dalam hal ini pengetahuan
kalkulatif dan tertutup seperti (gesstell), dan terbuka serta mengakar (gellasteinheit),
perlu diimplementasikan untuk mereduksi opresi perempuan mengenai leaping
ahead. Hal ini senada dengan macavoy yang mengatakan dasein tidak
bersifat netral, bahkan bercorak partriaki.
Upaya Uninstall Feminisme dilakukan
agar tidak memperbesar jarak antara lakilaki dan perempuan di kemudian hari.
Spirit untuk menjalani kehidupan dan berperilaku lebih baik tetap perlu
ditanamkan dengan nilai toleransi antara laki-laki maupun perempuan. Sehingga,
kekurangan atau ketidakmampuan individu dalam memberikan input dan menerima
output tidak dapat digeneralisir secara universal kepada masyarakat karena
dapat membahayakan nalar kolektivisme yang ada di Indonesia.