Mimpi
adalah ilusi, kenyataan adalah tragedi dan kondisi adalah komedi, begitu
kiranya lukisan kehidupan tentang pencaharian dan perjalanan yang bekelanjutan.
Untuk itu dalam maksud mengenalnya lebih dekat, perlu adanya upaya skeptis
guna mencapai kepastian itu, karna bukan tidak mungkin informasi telanjang pada
era digitalisasi banyak mengandung muatan kepuasan sementara untuk menciptakan
alat teknis persuasi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa diantara hal fundamental yang menyusun konstruksi
manusia adalah kepuasan, rasa ini terkristalisasi pasca tingkatan pertama yakni
kebutuhan sudah terpenuhi, baik secara primer, sekunder, tersier, kuatersier,
Dsb. Maka dengan segala upaya manusia akan terus berjalan untuk mencapai
pada sesuatu yang menurutnya memuaskan, yang mana kemudian tanpa mereka sadari
hal itu dapat menimbulkan segmentasi baru yakni klasifikasi kelas dan gradasi
sosial. Sebelum masuk pada aspek lain yang lahirnya disebabkan oleh perkawinan yang
lebih jauh, bersamaan dengan rasa kepuasan tersebut manusia terdikotomi menjadi
dua bagian yakni pemenang dan pecundang, pemenang adalah pemilik kuasa penuh
terhadap sistem teknis persuasi masyarakat, dan pencundang adalah bagian lain dari
relasi kuasa sebagai yang lain dari agresi itu, maka tak heran jika banyaknya konfrontasi untuk ruang ruang kekuasaan menjadi akibat daripada lahirnya tuan dan budak, pejabat dan masyarakat, orang
sakit dan partai politik. Pada konsepsi nya tetap saja relasi ini melahirkan
tuan dan budak. Jika di telisik secara tekstual kata ”tuan” bersejajar
dengan kata “tuhan” dengan
sedikit konotasi tambahan yakni “h” pada tengah-tengah kata tu dan
an yang secara maknawi memiliki kualitas yang sama yakni yang di abdikan.
Segmentasi itu lahir karnanya. tuan dengan kuasa nya mempunyai kepemilikan
terhadap hak dari pecundang yang berkorelasi pada pencaharian sesuatu sebagai
media dalam menyudahi persoalannya, bukan tanpa alasan, masalah yang justru
timbul dari pecundang itu merupakan akumulasi masalah yang diselesaikannya
tanpa mencari subtansi masalah itu secara parsial, tidak adanya upaya
keingintahuan dan kurangnya daya berpikir kritis guna mereduksi informasi semakin
memperekeruh kondisi yang terus dipolarisasi tuan melalui sistem terbingkai
yakni kekuasaan, sehingga pada segmen selanjutnya manusia itu terlempar pada
idiom agama guna mencari suaka pada dzat subtansial dengan tujuan
mendapatkan kedamaian jiwa dari kekuasaan tuhan yang tidak terbatas (infinity).
Lalu bagaimana dengan tuan yang terintervensi dengan daya jual ketuhanan demi
sebuah pemenuhan kepuasan dalam kekuasaan nya? tentu saja framing imperiumisasi
dapat dilihat melalui paradigma lain, tuan dalam kebermanfaatan individu nya
menggunakan sistem pendisiplinan untuk mempertajam dan memperpanjang kekuasaan.
tendensi seperti ini terjadi atas dasar korelasi antara kekuasaan dan yang dikuasai guna mengaktifkan hukum dunia yang dinamis perihal yang tergantikan dan
yang di tinggalkan (uncommonsurrability). Akan tetapi, aktivitas yang diimplementasikan dalam mereduksi paradigma atau tautologi yang berhadapan itu
justru lebih dominan diadopsi dari aktivitas amoral, dan sedikit yang melalui
jalan vis a viss pemikiran untuk mencari kebenaran. Hal ini tergambar
dalam hypatia yakni kematian seorang filsuf dan matematikawan cantik akibat
dominasi gereja, Hypatia di hakimi karna melakukan aktivitas oposisi melalui
kritik mengenai keberhentian tematiknya terhadap otoritas gereja yang dikuasai oleh
paulus sehingga membawanya ke meja pengahakiman dan penyiksaan, sebelum pada
akhirnya medan barat mengalami the dark age yakni abad stagnasi
pemikiran. Hal serupa kembali terjadi pada gairah kekuasaan pada zaman Nicolaus
Copernikus, seorang ahli astronomi yang terbunuh berkat dekritnya bahwa bumi adalah bulat, kendati demikian hal yang diacu oleh Copernikus
bukan suatu ancaman untuk otoritas gereja yang bersentuhan pada idiom agama
dengan pesan bahwa bumi adalah datar, melainkan sebagai komposisi penyeimbang
dalam menggeser konsepsi ptolomeus dari geo-sentris ke helio-sentris.
Sebelum pada akhirnya dektrit Copernikus ini mengilhami cortex Cristhoper
Colombus dalam pelayarannya. lalu kontruksi apa yang tuan bentuk dalam membingkai
pecundang dan khalayak ramai itu? Bagaimana konsepsi dan mekanisme kerja sistem
tersebut? Sehingga nanti nya mampu mengendalikan manusia dari luar dirinya?
Tentu saja pertanyaan subtansial seperti demikian akan terus berkembang seiring
pembaharuan pengetahuan, namun disisi lain perlu adanya sedikit jawaban guna meninggalkan
jejak pemikiran yang akan terbaharukan. Pertama, perlu dipahami bahwa
semesta ini merupakan susunan yang terpisah maknanya, yang mana kemudian mesti
dipersepsi dan dielaborasi dalam mengkonstruksikan sistem kehidupan (pallopticon).
Kedua, mesti adanya alat bantu (law and technologi) sebagai artifiliasi
guna melepaskan kesadaran dan meniadakan pilihan manusia untuk menetralisir
kesadaran aktif menjadi masif. Dan yang Ketiga, adalah fake and re-information
guna mengukur dan mempolarisasi tingkat kesadaran dan pengalihan kesadaran itu
pula. Maka dari itu perlu adanya kutub baru guna merespon produk pendisiplinan
tersebut, tindakan-tindakan yang mesti diambil pun perlu di ukur secara
signifikan guna mensolve terjadi genosystemisasi lebih jauh. Adapun tindakan tindakan
tersebut penulis pinjam dari buah hasil
pemikiran Rene Descartes. Pada mula nya dalam perjalanan manusia sebagai
subjek individu itu mesti menerima segala kualitas yang terbentuk, yang menurut
mereka itu merupakan kebenaran, akan tetapi manusia perlu sesekali untuk
meragukan kualitas sebagai kebenaran itu, karna bukan tidak mungkin itu
merupakan kemungkinan-kemungkinan tercecer yang terlegitimasi secara kolektif.
Karnanya manusia perlu menerima segala
jenis penilaian yang sudah ada sebagai pengetahuan pertama, akan tetapi mesti
ada upaya untuk meragukan guna memastikan kembali kebenaran dan kepastian itu. Bahwa Kualitas-kualitas yang sudah ada itu
merupakan suatu proporsisi yang mesti diragukan kebenarannya guna menciptakan
kemungkinan kemungkinan yang lebih dekat pada kebenaran. Katakan bahwa ini
adalah ‘gelas’ pertanyaan nya
kenapa lingkaran bervolume memiliki lengkungan sebagai penopang itu di beri kualitas
berupa kata “gelas” kenapa tidak wadah saja? Atau mungkin mangkok
air ? dalam pertanyaan dan keraguan itu manusia secara automaticly berprasangka
lebih jauh guna menemukan kepastian nya, bahkan dalam medium lain pula sudah
terjamin kesadaran nya oleh pikiran itu (cogito). Dengan kesadaran, skeptis,
imaginasi, dan kontemplasi itu yang nantinya menjadi antitesa opini opini yang
termatrikulasi oleh kekuasaan, dan karnanya manusia bisa lebih mendekat pada
kepastian dan terlepas pada keterkungkungan pemikiran yang berorientasi pada
produk ciptaan manusia itu sendiri dari salinan nilai nilai tertinggi (the
secondary of antromosfistik), hal ini tervisualisasikan dalam Film Attack On
Titan dalam pengertian kegagalan seekor manusia dari medium dalam yang mencoba
mempersepsikan medium luar, kegagalan itu dihasilkan oleh terhalangnya pengetahuan akibat tebing tinggi
(batasan), yang mana batasan atau tebing itu adalah buah hasil manusia
itu sendiri melalui kekuasaan.
Tuan
dengan Kepentingan, Budak dengan anatomi, Tuhan dengan kebenaran absolut, Semesta
serta Pengetahuan, Puan dan subur, Manusia artinya Kesadaran.
Daftar Pustaka
The Principles of philoshopy
Rhapsodia Filsafat