Rabu, 30 Agustus 2023

Environmental Ethics in Covid-19 Antrophocene Problems.

Secara fundamental, manusia telah memasuki fase baru dalam kehidupan. Deforestasi lingkungan semakin buruk merupakan hasil dari persentuhan manusia dengan alam. Eksploitasi sumber daya alam berlebihan (overgrazing) benar benar telah menjadi katalisator tercemarnya kualitas tanah, air dan udara. hal tersebut terjadi atas dasar egoistik manusia yang membuat dirinya tenggelam sebagai penguasa despotis terhadap alam raya. Sehingga upaya rekonstruksi lingkungan tidak dapat dilakukan secara praktis dan etis saja, akan tetapi, upaya tersebut baru akan terealisasi jika menghidupkan kembali status ontologis yang ada pada alam. Interelasi antara tuhan, alam dan manusia merupakan kesatuan utuh dalam kehidupan. kendati demikian, ironis sekali bahwa manusia kurang menyentuh stand point of ethics in islamic teology. hal ini berdampak pada bangkrutnya spiritualitas manusia, sehingga aktualisasi tindakan yang tidak berdasar pada nilai nilai ketuhanan menjadi cikal bakal rusaknya tatanan alam semesta. Manusia telah mengklusi dan mengeksploitasi alam secara berlebihan. Perbincangan antara interelasi sebenarnya telah menjadi isu panjang dalam kehidupan manusia. tidak dapat dipungkiri bahwa kesalahpahaman yang terjadi antara tuhan dan manusia telah menjadi persoalan falsafah yang abadi dan universal (Philoshopia perennist et universalist), oleh karna itu, sikap acuh dan diamnya manusia terhadap upaya rekonstruksi tatanan alam merupakan bentuk afirmasi terhadap kehancuran alam secara gradual. Seorang ideolog jerman berpendapat dalam penelitiaannya mengenai “green party”, pada bagian awal analysisnya yang menyoal terkait krisis lingkungan yang terjadi, menurutnya deforestasi lingkungan bukan berasal dari lingkungan itu secara alami, namun deforestasi yang terjadi pada lingkungan akibat runtuhnya relasi antara manusia dengan tuhan. Dengan persoalan seperti itu, kemudian muncul dan berkembang idiom baru yakni “ekologi dalam” (deep ecology), yang berarti pengetahuan berada dalam spiritualitas individu.

Pada sisi yang lain, kemajuan peradaban manusia sangat bertumpu pada teknologi dan ilmu pengetahuan, untuk itu manusia merubah struktur ekologi guna merealisasikan pikiran dan mewujudkan pikirannya, dalam hal ini corak epistemologi Cartesian yakni dualistik- mekanistik begitu melekat pada alam dan manusia secara dikotomis untuk kemajuan ekosistem manusia. Subjektivitas dalam pengertian Rene Descartes menjadi perhatian khusus sebagai akar dari lahirnya antrophosentrisme yang kemudian menjadi landasan kerusakan ekologis, hal itu telah terkristalisasi dalam Cogito Ergo Sum dalam mencetuskan kesadaran individual, artinya basis ontologis dari eksistensi alam semesta berada diluar diri manusia. akan tetapi, subjektivitas Isaac Newton terletak pada hasrat atau ambisi individu (human) sebagai subjek guna merefleksikan dirinya terhadap segala fenomena alam semesta melalui formula matematika, artinya alam dan manusia memiliki relasi terhadap keduanya. Titik singgung keduanya berlanjut pada relasi antara tuhan dan manusia, menurut Descartes, Tuhan merupakan unsur yang bersifat instrumentalistik karna sebagai penjamin atas keberadaan dan pengetahuan subjek individu terhadap benda benda lain (realitas eksternal). Sedangkan menurut Newton, Tuhan merupakan pencipta partikel-partikel benda (oikos), tuhan hanya dibutuhkan saat penciptaan saja. Kekuatan partikel menciptakan gerak dalam alam semesta seperti mesin raksasa berbasis hukum deterministic. Pada prinsip newton dan kaum materialis lainnya, fenomena alam dapat menjadi sumber dan acuan untuk menjumlah dan menjelaskan fenomena mental manusia dengan menggunakan hukum hukum fisik, dan bahan dasar atau partikel yang memiliki nutrisi, fotosintesis dan sistem pertumbuhan sebagai alat refleksi. Barrow dalam bukunya Essay On The Principle Of population (1789), mengatakan bahwa keberhentian dan kemusnahan umat manusia baru akan terjadi pada saat- saat persebaran penyakit, kelaparan dan peperangan. Seperti beberapa waktu lalu , umat manusia harus beradaptasi dan terpaksa hidup ditengah bumi yang sakit, COVID-19 yang melanda bumi manusia dinilai sebagai efek dari pemerkosaan alam yang berlebihan. Charles Handy menyatakan bahwa manusia era baru yang meninggalkan sejarah akan kehilangan keteraturan pada perubahannya, bahwa kondisi yang tercipta merupakan sesuatu yang tidak berpola. oleh karna itu paradigma antrophosentrisme menjadi persoalan penting mesti dikupas sedetail mungkin, dalam arti tertentu tragis, untuk menyelamatkan manusia dari bumi yang sakit.

disarikan dari:

Prof. Oekan S. Abdullah, Ph.D. Ekologi Manusia Dan Pembangunan Berkelajutan.Gramedia Pustaka Utama (2017).

Herman Khaeron. Islam, Manusia, Dan Lingkungan Hidup. Nuansa Cendekia (2014)

Luh Gede Saraswati Putri. Ekofenomenologi: Mengurai Disekuibilirium Relasi Manusia dengan Alam. Gajah Hidup (2015).

Ahmad Sahidah Rahem. Tuhan, Manusia & Alam Dalam Al-Qur’an, pandangan Toshihiko Izutsu. University Sains Malaysia (2014).

Karla Melia Cut Rita Zahara. Antisipasi Resesi dan Krisis Pangan Akibat Pandemi. Syiah Kuala University Press (2020).

Nur Arfiyah Febriyani. Inisiasi Ekoteologi Berwawasan Gender Dalam Al-Quran. Uin Syarif Hidayatullah Jakarta (2017). Jurnal vol 24. Hal 10.

Muh. Syamsuddin. Krisis ekologi Global Dalam perspektif Islam. Uin Sunan Kalijaga (2017). Jurnal Vol 11. hal 2.

Magatra Tr. Paradigma Cartesian-Newtonian. Word Press (2011). Jurnal Vol 6. hal 4.

Boedi Priantoro. Dampak Covid-19 Pada Perubahan Sosial Masyarakat. Webinar Nasional Cendekiawan ke 6 (2020), Jurnal Vol 5. Hal 3.



Minggu, 07 Mei 2023

KONDISI MENTAL DAN SOSIAL MANUSIA.

KONDISI MENTAL DAN SOSIAL MANUSIA.

Hidup merupakan anugerah tuhan kepada manusia dan untuk hidup sesuai manusia harus memiliki tujuan hidup, dengan begitu manusia mempunyai alasan untuk memaknai dan menjalani hidup. kendati banyak manusia diluar sana yang bercerai dengan hidup nya, dalam buku fenomenal Mite sisifus karya Albert Camus seorang filsuf absurdian kenamaan Aljazair dikatakan bahwa perceraian itu disebabkan oleh harapan yang terbatalkan kenyataan, sehingga kemudian bagi mereka yang tidak mampu menerima realitas eksternal merasa bahwa hidup sudah tidak pantas untuk dimaknai dan dijalani, akhir nya ia menyerah pada hidupnya. sudah bukan rahasia umum lagi bila kehidupan menyangkut dua ruang berbeda, yakni fisik dan metafisik. Manusia akan memulai perjalanannya dengan mengkontruksi hal apa yang mungkin dapat dilakukan dalam pikiran nya (Think an Rethinking) dan mulai untuk merealisasikan hal tersebut. Tentu bentukan epistemologi manusia merupakan hal fundamental yang mampu mempersuasi segala bentuk tindakan dan perilaku. Oleh karna itu bentuk dan anatomi pikiran manusia merupakan struktur evidensial yang mesti diperhatikan. Umum nya manusia bervolusi dalam dua bentuk yakni: perubahan bentuk pikiran secara pasif yang disesuaikan oleh norma dan kondisi sosial ( autoplastic ), dan perubahan lingkungan yang secara aktif disesuaikan oleh pengaruh aktivitas pikiran dan keinginan individu (alloplastic), kedua hal tersebut memilki tenggat waktu dalam evolusi manusia. Fase berikut selalu meliputi kehidupan manusia, hal ini dapat dilihat dengan mudah biasanya terjadi pada fase kanak-kanak, ketika peletakan dasar pengetahuan terjadi. Dalam pemisahan mental perkembangan anak anak yakni: sadar, pra sadar dan tak sadar  menurut sigmund freud dalam bukunya, Introduction lectures, melalui konsep id, ego, superego  dikatakan bahwa kualitas dan variable bentukan pikiran terjadi atas dasar organisme manusia yang kerap kali bertentangan dengan realitas eksternal. Manusia perlu mengetahui kualitas apa yang membentuk mental dan pikiran, sehingga kemudian dapat menerima keberadaan dan keadaan sosial nya. Konsep Id disajikan sebagai hal yang beorientasi pada tuntutan primitif naluriah manusia, hal itu sama sekali tidak terintervensi oleh keadaan moral dan sosial. Ciri khas yang diberikan freud dalam mengidentifikasi Id terletak pada tuntutan tanpa syarat bagi kepuasan (impuls) yang bersifat irasionalitas dan amoralitas. Id selalu mengandung naluri hidup dan mati, yakni merupakan kualitas kualitas rasial yang diwariskan oleh kerajaan binatang. Dengan id manusia akan merealisasikan naluri nya melalui cara apapun untuk meraih kesenangan, karna nya tindakan itu sama sekali tidak mengenal batas batas realitas eksternal. Adapun konsep ego digambarkan sebagai penengah antara id dengan realitas eksternal, ia dimaksudkan untuk mencari rute dalam mewujudkan naluriah manusia sekaligus mengenalkannya pada batas batas realitas eksternal, itu artinya ego bersifat semi netral, sesekali ia bertolak belakang dengan naluri manusia, sesekali ia seturut dengan naluri manusia. Freud menekankan ego dengan memberi analogi seperti kuda dengan kusir nya, kusir mungkin dapat menentukan arah mana yang baik untuk dipilih, namun terkadang kita jumpai kuda tidak sesuai dengan instruksi yang diberikan kusir. Kemudian konsep superego bertindak seperti orang tua, bahwa anak anak selalu memandang orang tua sebagai sang maha tau, sehingga tidak memberi jarak anak untuk tidak meniru atau melakukan apa yang orang tua katakan. Superego ini bersifat objektif, sebab ia merupakan stimulasi luar secara metafisik yang mendorong anak untuk bertindak baik dan buruk seturut dengan pikiran nya yang sudah terlebih dahulu terintervensi, dengan pikiran yang sudah mengenal batas batas realitas eksternal, serta pengetahuan yang dianggap nya benar,  maka hal yang mungkin anak lakukan adalah sesuai dengan sesuatu yang ia terima dari kualitas kualitas pengetahuan (superego) dan  kondisi realitas eksternalnya. Dengan itu tidak mengherankan pula jika manusia mungkin bercerai dan menyerah pada realitas eksternal, hal itu akan selalu terjadi apabila manusia tersebut mengalami distingsi dalam memahami sesuatu yang mungkin, dimungkinkan dan tidak mungkin, batas batas realitas selalu memberi hal diluar prediksi manusia, sehingga kemudian itu menjadi hal yang mendasar untuk bisa menekan atau tidak nya impuls-impuls manusia. Dengan ilmu pengetahuan seyogyanya dapat menstimulasi tindakan menjadi lebih baik lagi, ia mungkin merubah prediksi menjadi prediktif, bahkan jika tidak, ia mampu mensabotase kegagalan menjadi menyenangkan dalam ruang kontemplasi, sehingga menekan angka kematian akibat perceraian manusia dengan hidup nya. sudah seharus nya segala unit dan kualitas yang memiliki relasi untuk selalu menjadi alat transportasi manusia menuju keharmonisan. Jika saya boleh katakan bahwa peranan agama sangat positif dalam mereduksi permasalahan ini, hal ini tentu bersandar pada neurotik-psikotik manusia yang terguncang menjadikan agama sebagai titik balik kehidupan, hal ini terdapat pada syariat maupun tirakat yang bermanfaat untuk menekan impuls dan sikap infantil manusia dalam bertindak. Sehingga kemudian pikiran dan kekecewaan yang direalisasikan dapat berdampak positif.


daftar pustaka : Reuben Osborn; Marxisme an Psikoanalisis

Albert Camus: Mite sisifus

Sigmund Freud : Introduction Lecture

Jumat, 14 April 2023

Uninstall Feminis dan Patriarki

 

UNINSTALL FEMINIS DAN PARTRIARKI

Uninstall feminis dan partiarki merupakan aspirasi dalam menutup ruang negatif yang terjadi atas dasar miskonsepsi, inorientasi dan paham dari keduanya, kekhawatiran akan peradaban yang mundur adalah tujuan utama dalam tagline uninstall, kendati memang dapat melahirkan lebih banyak lagi hal yang berkonfrontasi, namun pada era kontemporer ini justru di maknai dengan aspirasi tanpa teori dan negasi. Hal yang didudukan pada narasi subjektif dan tidak lagi menuju pada kritik pada hukum yang melatarbelakangi perilaku manusia (antropologi forensik), sehingga kemudian hal hal yang seharusnya direkonstruksi atau mungkin lebih tepatnya didekontruksi tidak diperhatikan secara kontiunitas. Seperti hal nya intitusi pendidikan, sistem keluarga, lembaga hukum, dan perkawinan tidak mengalami perubahan yang signifikan, secara fundamental struktur yang menyusun konsepsi moral atau etiket adalah intitusi yang terpolariasi dengan semangat misoginis dan phallocentris menjadi alasan dunia ini dimaknai sebagai dunia buatan. adapun klausul yang terjadi pada era kontemporer antara lain:

1.     1. Feminisme memiliki kesamaan dengan LGBTQ+ dalam memandang gender sebagai Social Things, bukan Natural Things (sedangkan, physical manusia dibentuk juga menyesuaikan dan disesuaikan oleh kondisi psychologis - sebagai aforisme, wadah bak mandi tidak mungkin diisi dengan debit sebanyak air di danau)

2.     2, Feminisme mengalami disorientasi, dari ranah pendidikan dan pekerjaan, menjadi ranah individual partikural yang tidak bisa diselesaikan secara universal sehingga, perempuan hari ini menggunakan term feminis sebagai excuse untuk melakukan atau tidak melakukan hal yang semestinya dilakukan oleh perempuan

3.     3. Narasi child free mencederai peace of life, bahwa hal yang di jadikan bahan meruapakan teriakan atas dasar naturalisme, kendati kondrat atau hal apriopri itu disertakan kuasa tuhan, sehingga merubah peta yang seharusnya naturalistik.

Kendati partiarki sudah mati, namun semangat feminis masih kerap menyuarakan aspirasi subjetif nya, bahwa dalam strata sosial perempuan mesti dilabeli makhluk unggul dari lini domestik dan publik (double burden), walaupun pada realitanya hal yang mulai membaik sebelum disintegrasi itu terjadi. Pada kesempatan tertentu klausul yang sensitif ini dapat di analisis melalui konsep dasein milik martin heiddeger. Bahwa loncatan ke dalam (leaping in) menjanjikan perempuan mendapatkan ruang nya, namun pada loncatan keluar dan kedalam (leaping ahead) menjadi dasar opresi perempuan dalam menyajikan tuntutan atas hak, kesempatan dan peluang. Tentu dalam hal ini pengetahuan kalkulatif dan tertutup seperti (gesstell), dan terbuka serta mengakar (gellasteinheit), perlu diimplementasikan untuk mereduksi opresi perempuan mengenai leaping ahead. Hal ini senada dengan macavoy yang mengatakan dasein tidak bersifat netral, bahkan bercorak partriaki.

Upaya Uninstall Feminisme dilakukan agar tidak memperbesar jarak antara lakilaki dan perempuan di kemudian hari. Spirit untuk menjalani kehidupan dan berperilaku lebih baik tetap perlu ditanamkan dengan nilai toleransi antara laki-laki maupun perempuan. Sehingga, kekurangan atau ketidakmampuan individu dalam memberikan input dan menerima output tidak dapat digeneralisir secara universal kepada masyarakat karena dapat membahayakan nalar kolektivisme yang ada di Indonesia.

Selasa, 17 Januari 2023

On proses Paradox Existensi Manusia

 

Paradoks Existensi Manusia

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia kontemporer telah masuk pada bab baru kehidupan, pesat nya perkembangan zaman. hal itu tergambarkan oleh aktifitas yang mulai tergantikan oleh keberadaaan benda yang berhasil digerakkan, manusia memiliki anggota tubuh terbaharu yakni technologi, Relasi keduanya tergambar begitu jelas atas keterlibatan alat artifisial tersebut dalam berbagai hal, keberhasilan itu tentu bisa dilihat dari beberapa framing baik positif maupun dampak negatif, katakan bahwa manusia sangat amat terbantu dengan keberadaan benda artifisial itu, mereka dapat menempati  kontruksi psikis dan idealis melalui  kecerdasan buatan (artificial intellegent), bahkan tak jarang ketika seorang manusia memulai pencarian dengan Smartphone seringkali didahului pikirannya oleh kecerdasan buatan itu, huruf yang belum sempat sempurna menjadi kata itu sudah tercetak lebih cepat, kendati itu masih bersifat prediksi, oleh karna nya manusia dapat menghemat waktu berlipat ganda dari biasa nya dalam keterbantuan berpikir dan bertindak, sekali lagi technologi benar benar berhasil untuk menggantikan peran manusia pada ruang publik maupun domestik. Namun di sisi lain hal ini terlihat serius dampak negatif nya bilamana di telisik lebih dalam mengenai eksistensi manusia itu sendiri, maksud saya jika waktu sudah terminimalisasi, aktifitas telah terdigitalisasi oleh eksitensi benda artifisial itu, segala sesuatu nya telah tergantikan dengan technologi, what is next?.  benar, apa selanjutnya? Jika semua itu telah tergantikan, kemana perginya aktifitas manusia? Apakah manusia akan menggantikan peran benda yang sebelum nya tergeletak? Seperti sepotong kayu atau besi yang tidak memiliki kuasa terhadap diri nya? Usang di selimuti rumah tarantula?.  Sebelum itu dalam maksud memahami nya lebih dalam, dewasa ini kita ihwal kan pada konsep mendasar dari keterbentukan alat artifisial tersebut. Secara fundamental komponen yang membentuk kecerdasan itu merupakan buah pikiran manusia yang di runtuhankan, lalu di buatkan algoritma yang nanti nya di elaborasi menjadi prototype seperti otak manusia, yang dapat di sajikan dengan hal sederhana itu adalah ketertinggalan pikiran tradisional manusia oleh kecerdasan buatan, bagaimana tidak? Kecerdasan buatan mengungguli kecerdasan manusia. pada era kontemporer ini kita di suguhkam oleh pengetahuan yang dapat di akses melalui kecerdasan buatan tersebut, kemudahan itu membawa manusia masuk ke dalam fase kemunduran pemikiran secara gradual. Manusia harus mencari solusi dari evolusi nya yang bertumpu pada pikiran yang sudah di unggulin oleh kecerdasan buatan nya. selain itu pada aspek yang sudah di singgung di awal bahwa keberadaan benda artifial itu memberikan relasi pada hilang nya eksitensi manusia. Namun bagi saya alat artifisial bukan lah sebuah solusi, akan tetapi sebagai peralihan fokus manusia saja, bayangkan jika nanti nya kecerdasan buatan itu dapat menemukan kesadaran nya sendiri dan tidak bertumpu pada perintah manusia sebagai tuan atau tuhannya. untuk itu dalam menganalisa paradoxal existensi manusia lebih dalam penulis meminjam metodologi sein dan dasein milik martin heidegger. Bahwa manusia mengalami keterlemparan ( Faktisity ) dari sana  ke sini,  keterlemparan itu lah yang menjadi fondasi pertama bahwa anak manusia mesti menemukan dirinya, sehingga kemudian tidak mengelami disposisi pada persoalan sosial, ia mesti menjaga warna dan bentuk pikiran secara ekslusif. Namun dengan adanya alat artifisial itulah menjadi alasan keterlemparan kedua (secondary of faktisity). next


Kamis, 05 Januari 2023

Tuhan, Semesta, Tuan-Puan Dan Bumi Manusia.

Mimpi adalah ilusi, kenyataan adalah tragedi dan kondisi adalah komedi, begitu kiranya lukisan kehidupan tentang pencaharian dan perjalanan yang bekelanjutan. Untuk itu dalam maksud mengenalnya lebih dekat, perlu adanya upaya skeptis guna mencapai kepastian itu, karna bukan tidak mungkin informasi telanjang pada era digitalisasi banyak mengandung muatan kepuasan sementara untuk menciptakan alat teknis persuasi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa diantara  hal fundamental yang menyusun konstruksi manusia adalah kepuasan, rasa ini terkristalisasi pasca tingkatan pertama yakni kebutuhan sudah terpenuhi, baik secara primer, sekunder, tersier, kuatersier, Dsb. Maka dengan segala upaya manusia akan terus berjalan untuk mencapai pada sesuatu yang menurutnya memuaskan, yang mana kemudian tanpa mereka sadari hal itu dapat menimbulkan segmentasi baru yakni klasifikasi kelas dan gradasi sosial. Sebelum masuk pada aspek lain yang lahirnya disebabkan oleh perkawinan yang lebih jauh, bersamaan dengan rasa kepuasan tersebut manusia terdikotomi menjadi dua bagian yakni pemenang dan pecundang, pemenang adalah pemilik kuasa penuh terhadap sistem teknis persuasi masyarakat, dan pencundang adalah bagian lain dari relasi kuasa sebagai yang lain dari agresi itu, maka tak heran jika banyaknya konfrontasi untuk ruang ruang kekuasaan menjadi akibat daripada lahirnya  tuan dan budak, pejabat dan masyarakat, orang sakit dan partai politik. Pada konsepsi nya tetap saja relasi ini melahirkan tuan dan budak. Jika di telisik secara tekstual kata ”tuan” bersejajar dengan kata “tuhan”  dengan sedikit konotasi tambahan yakni “h” pada tengah-tengah kata tu dan an yang secara maknawi memiliki kualitas yang sama yakni yang di abdikan. Segmentasi itu lahir karnanya. tuan dengan kuasa nya mempunyai kepemilikan terhadap hak dari pecundang yang berkorelasi pada pencaharian  sesuatu sebagai media dalam menyudahi persoalannya, bukan tanpa alasan, masalah yang justru timbul dari pecundang itu merupakan akumulasi masalah yang diselesaikannya tanpa mencari subtansi masalah itu secara parsial, tidak adanya upaya keingintahuan dan kurangnya daya berpikir kritis guna mereduksi informasi semakin memperekeruh kondisi yang terus dipolarisasi tuan melalui sistem terbingkai yakni kekuasaan, sehingga pada segmen selanjutnya manusia itu terlempar pada idiom agama guna mencari suaka pada dzat subtansial dengan tujuan mendapatkan kedamaian jiwa dari kekuasaan tuhan yang tidak terbatas (infinity). Lalu bagaimana dengan tuan yang terintervensi dengan daya jual ketuhanan demi sebuah pemenuhan kepuasan dalam kekuasaan nya? tentu saja framing imperiumisasi dapat dilihat melalui paradigma lain, tuan dalam kebermanfaatan individu nya menggunakan sistem pendisiplinan untuk mempertajam dan memperpanjang kekuasaan. tendensi seperti ini terjadi atas dasar korelasi antara kekuasaan dan yang dikuasai guna mengaktifkan hukum dunia yang dinamis perihal yang tergantikan dan yang di tinggalkan (uncommonsurrability). Akan tetapi, aktivitas yang diimplementasikan dalam mereduksi paradigma atau tautologi yang berhadapan itu justru lebih dominan diadopsi dari aktivitas amoral, dan sedikit yang melalui jalan vis a viss pemikiran untuk mencari kebenaran. Hal ini tergambar dalam hypatia yakni kematian seorang filsuf dan matematikawan cantik akibat dominasi gereja, Hypatia di hakimi karna melakukan aktivitas oposisi melalui kritik mengenai keberhentian tematiknya  terhadap otoritas gereja yang dikuasai oleh paulus sehingga membawanya ke meja pengahakiman dan penyiksaan, sebelum pada akhirnya medan barat mengalami the dark age yakni abad stagnasi pemikiran. Hal serupa kembali terjadi pada gairah kekuasaan pada zaman Nicolaus Copernikus, seorang ahli astronomi yang terbunuh berkat dekritnya  bahwa bumi adalah bulat,  kendati demikian hal yang diacu oleh Copernikus bukan suatu ancaman untuk otoritas gereja yang bersentuhan pada idiom agama dengan pesan bahwa bumi adalah datar, melainkan sebagai komposisi penyeimbang dalam menggeser konsepsi ptolomeus dari geo-sentris ke helio-sentris. Sebelum pada akhirnya dektrit Copernikus ini mengilhami cortex Cristhoper Colombus dalam pelayarannya. lalu kontruksi apa yang tuan bentuk dalam membingkai pecundang dan khalayak ramai itu? Bagaimana konsepsi dan mekanisme kerja sistem tersebut? Sehingga nanti nya mampu mengendalikan manusia dari luar dirinya? Tentu saja pertanyaan subtansial seperti demikian akan terus berkembang seiring pembaharuan pengetahuan, namun disisi lain perlu adanya sedikit jawaban guna meninggalkan jejak pemikiran yang akan terbaharukan. Pertama, perlu dipahami bahwa semesta ini merupakan susunan yang terpisah maknanya, yang mana kemudian mesti dipersepsi dan dielaborasi dalam mengkonstruksikan sistem kehidupan (pallopticon). Kedua, mesti adanya alat bantu (law and technologi) sebagai artifiliasi guna melepaskan kesadaran dan meniadakan pilihan manusia untuk menetralisir kesadaran aktif menjadi masif. Dan yang Ketiga, adalah fake and re-information guna mengukur dan mempolarisasi tingkat kesadaran dan pengalihan kesadaran itu pula. Maka dari itu perlu adanya kutub baru guna merespon produk pendisiplinan tersebut, tindakan-tindakan yang mesti diambil pun perlu di ukur secara signifikan guna mensolve terjadi genosystemisasi lebih jauh. Adapun tindakan tindakan tersebut penulis pinjam  dari buah hasil pemikiran Rene Descartes. Pada mula nya dalam perjalanan manusia sebagai subjek individu itu mesti menerima segala kualitas yang terbentuk, yang menurut mereka itu merupakan kebenaran, akan tetapi manusia perlu sesekali untuk meragukan kualitas sebagai kebenaran itu, karna bukan tidak mungkin itu merupakan kemungkinan-kemungkinan tercecer yang terlegitimasi secara kolektif.  Karnanya manusia perlu menerima segala jenis penilaian yang sudah ada sebagai pengetahuan pertama, akan tetapi mesti ada upaya untuk meragukan guna memastikan kembali kebenaran dan kepastian itu.  Bahwa Kualitas-kualitas yang sudah ada itu merupakan suatu proporsisi yang mesti diragukan kebenarannya guna menciptakan kemungkinan kemungkinan yang lebih dekat pada kebenaran. Katakan bahwa ini adalah ‘gelas’  pertanyaan nya kenapa lingkaran bervolume memiliki lengkungan sebagai penopang itu di beri kualitas berupa kata “gelas” kenapa tidak wadah saja? Atau mungkin mangkok air ? dalam pertanyaan dan keraguan itu manusia secara automaticly berprasangka lebih jauh guna menemukan kepastian nya, bahkan dalam medium lain pula sudah terjamin kesadaran nya oleh pikiran itu (cogito). Dengan kesadaran, skeptis, imaginasi, dan kontemplasi itu yang nantinya menjadi antitesa opini opini yang termatrikulasi oleh kekuasaan, dan karnanya manusia bisa lebih mendekat pada kepastian dan terlepas pada keterkungkungan pemikiran yang berorientasi pada produk ciptaan manusia itu sendiri dari salinan nilai nilai tertinggi (the secondary of antromosfistik), hal ini tervisualisasikan dalam Film Attack On Titan dalam pengertian kegagalan seekor manusia dari medium dalam yang mencoba mempersepsikan medium luar, kegagalan itu dihasilkan oleh  terhalangnya pengetahuan akibat tebing tinggi (batasan), yang mana batasan atau tebing itu adalah buah hasil manusia itu sendiri melalui kekuasaan.

Tuan dengan Kepentingan, Budak dengan anatomi, Tuhan dengan kebenaran absolut, Semesta serta Pengetahuan, Puan dan subur, Manusia artinya Kesadaran.

Daftar Pustaka 

The Principles of philoshopy

Rhapsodia Filsafat 

Environmental Ethics in Covid-19 Antrophocene Problems.

Secara fundamental, manusia telah memasuki fase baru dalam kehidupan. Deforestasi lingkungan semakin buruk merupakan hasil dari persentuhan ...