Selasa, 17 Januari 2023

On proses Paradox Existensi Manusia

 

Paradoks Existensi Manusia

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia kontemporer telah masuk pada bab baru kehidupan, pesat nya perkembangan zaman. hal itu tergambarkan oleh aktifitas yang mulai tergantikan oleh keberadaaan benda yang berhasil digerakkan, manusia memiliki anggota tubuh terbaharu yakni technologi, Relasi keduanya tergambar begitu jelas atas keterlibatan alat artifisial tersebut dalam berbagai hal, keberhasilan itu tentu bisa dilihat dari beberapa framing baik positif maupun dampak negatif, katakan bahwa manusia sangat amat terbantu dengan keberadaan benda artifisial itu, mereka dapat menempati  kontruksi psikis dan idealis melalui  kecerdasan buatan (artificial intellegent), bahkan tak jarang ketika seorang manusia memulai pencarian dengan Smartphone seringkali didahului pikirannya oleh kecerdasan buatan itu, huruf yang belum sempat sempurna menjadi kata itu sudah tercetak lebih cepat, kendati itu masih bersifat prediksi, oleh karna nya manusia dapat menghemat waktu berlipat ganda dari biasa nya dalam keterbantuan berpikir dan bertindak, sekali lagi technologi benar benar berhasil untuk menggantikan peran manusia pada ruang publik maupun domestik. Namun di sisi lain hal ini terlihat serius dampak negatif nya bilamana di telisik lebih dalam mengenai eksistensi manusia itu sendiri, maksud saya jika waktu sudah terminimalisasi, aktifitas telah terdigitalisasi oleh eksitensi benda artifisial itu, segala sesuatu nya telah tergantikan dengan technologi, what is next?.  benar, apa selanjutnya? Jika semua itu telah tergantikan, kemana perginya aktifitas manusia? Apakah manusia akan menggantikan peran benda yang sebelum nya tergeletak? Seperti sepotong kayu atau besi yang tidak memiliki kuasa terhadap diri nya? Usang di selimuti rumah tarantula?.  Sebelum itu dalam maksud memahami nya lebih dalam, dewasa ini kita ihwal kan pada konsep mendasar dari keterbentukan alat artifisial tersebut. Secara fundamental komponen yang membentuk kecerdasan itu merupakan buah pikiran manusia yang di runtuhankan, lalu di buatkan algoritma yang nanti nya di elaborasi menjadi prototype seperti otak manusia, yang dapat di sajikan dengan hal sederhana itu adalah ketertinggalan pikiran tradisional manusia oleh kecerdasan buatan, bagaimana tidak? Kecerdasan buatan mengungguli kecerdasan manusia. pada era kontemporer ini kita di suguhkam oleh pengetahuan yang dapat di akses melalui kecerdasan buatan tersebut, kemudahan itu membawa manusia masuk ke dalam fase kemunduran pemikiran secara gradual. Manusia harus mencari solusi dari evolusi nya yang bertumpu pada pikiran yang sudah di unggulin oleh kecerdasan buatan nya. selain itu pada aspek yang sudah di singgung di awal bahwa keberadaan benda artifial itu memberikan relasi pada hilang nya eksitensi manusia. Namun bagi saya alat artifisial bukan lah sebuah solusi, akan tetapi sebagai peralihan fokus manusia saja, bayangkan jika nanti nya kecerdasan buatan itu dapat menemukan kesadaran nya sendiri dan tidak bertumpu pada perintah manusia sebagai tuan atau tuhannya. untuk itu dalam menganalisa paradoxal existensi manusia lebih dalam penulis meminjam metodologi sein dan dasein milik martin heidegger. Bahwa manusia mengalami keterlemparan ( Faktisity ) dari sana  ke sini,  keterlemparan itu lah yang menjadi fondasi pertama bahwa anak manusia mesti menemukan dirinya, sehingga kemudian tidak mengelami disposisi pada persoalan sosial, ia mesti menjaga warna dan bentuk pikiran secara ekslusif. Namun dengan adanya alat artifisial itulah menjadi alasan keterlemparan kedua (secondary of faktisity). next


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Environmental Ethics in Covid-19 Antrophocene Problems.

Secara fundamental, manusia telah memasuki fase baru dalam kehidupan. Deforestasi lingkungan semakin buruk merupakan hasil dari persentuhan ...