Kamis, 05 Januari 2023

Tuhan, Semesta, Tuan-Puan Dan Bumi Manusia.

Mimpi adalah ilusi, kenyataan adalah tragedi dan kondisi adalah komedi, begitu kiranya lukisan kehidupan tentang pencaharian dan perjalanan yang bekelanjutan. Untuk itu dalam maksud mengenalnya lebih dekat, perlu adanya upaya skeptis guna mencapai kepastian itu, karna bukan tidak mungkin informasi telanjang pada era digitalisasi banyak mengandung muatan kepuasan sementara untuk menciptakan alat teknis persuasi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa diantara  hal fundamental yang menyusun konstruksi manusia adalah kepuasan, rasa ini terkristalisasi pasca tingkatan pertama yakni kebutuhan sudah terpenuhi, baik secara primer, sekunder, tersier, kuatersier, Dsb. Maka dengan segala upaya manusia akan terus berjalan untuk mencapai pada sesuatu yang menurutnya memuaskan, yang mana kemudian tanpa mereka sadari hal itu dapat menimbulkan segmentasi baru yakni klasifikasi kelas dan gradasi sosial. Sebelum masuk pada aspek lain yang lahirnya disebabkan oleh perkawinan yang lebih jauh, bersamaan dengan rasa kepuasan tersebut manusia terdikotomi menjadi dua bagian yakni pemenang dan pecundang, pemenang adalah pemilik kuasa penuh terhadap sistem teknis persuasi masyarakat, dan pencundang adalah bagian lain dari relasi kuasa sebagai yang lain dari agresi itu, maka tak heran jika banyaknya konfrontasi untuk ruang ruang kekuasaan menjadi akibat daripada lahirnya  tuan dan budak, pejabat dan masyarakat, orang sakit dan partai politik. Pada konsepsi nya tetap saja relasi ini melahirkan tuan dan budak. Jika di telisik secara tekstual kata ”tuan” bersejajar dengan kata “tuhan”  dengan sedikit konotasi tambahan yakni “h” pada tengah-tengah kata tu dan an yang secara maknawi memiliki kualitas yang sama yakni yang di abdikan. Segmentasi itu lahir karnanya. tuan dengan kuasa nya mempunyai kepemilikan terhadap hak dari pecundang yang berkorelasi pada pencaharian  sesuatu sebagai media dalam menyudahi persoalannya, bukan tanpa alasan, masalah yang justru timbul dari pecundang itu merupakan akumulasi masalah yang diselesaikannya tanpa mencari subtansi masalah itu secara parsial, tidak adanya upaya keingintahuan dan kurangnya daya berpikir kritis guna mereduksi informasi semakin memperekeruh kondisi yang terus dipolarisasi tuan melalui sistem terbingkai yakni kekuasaan, sehingga pada segmen selanjutnya manusia itu terlempar pada idiom agama guna mencari suaka pada dzat subtansial dengan tujuan mendapatkan kedamaian jiwa dari kekuasaan tuhan yang tidak terbatas (infinity). Lalu bagaimana dengan tuan yang terintervensi dengan daya jual ketuhanan demi sebuah pemenuhan kepuasan dalam kekuasaan nya? tentu saja framing imperiumisasi dapat dilihat melalui paradigma lain, tuan dalam kebermanfaatan individu nya menggunakan sistem pendisiplinan untuk mempertajam dan memperpanjang kekuasaan. tendensi seperti ini terjadi atas dasar korelasi antara kekuasaan dan yang dikuasai guna mengaktifkan hukum dunia yang dinamis perihal yang tergantikan dan yang di tinggalkan (uncommonsurrability). Akan tetapi, aktivitas yang diimplementasikan dalam mereduksi paradigma atau tautologi yang berhadapan itu justru lebih dominan diadopsi dari aktivitas amoral, dan sedikit yang melalui jalan vis a viss pemikiran untuk mencari kebenaran. Hal ini tergambar dalam hypatia yakni kematian seorang filsuf dan matematikawan cantik akibat dominasi gereja, Hypatia di hakimi karna melakukan aktivitas oposisi melalui kritik mengenai keberhentian tematiknya  terhadap otoritas gereja yang dikuasai oleh paulus sehingga membawanya ke meja pengahakiman dan penyiksaan, sebelum pada akhirnya medan barat mengalami the dark age yakni abad stagnasi pemikiran. Hal serupa kembali terjadi pada gairah kekuasaan pada zaman Nicolaus Copernikus, seorang ahli astronomi yang terbunuh berkat dekritnya  bahwa bumi adalah bulat,  kendati demikian hal yang diacu oleh Copernikus bukan suatu ancaman untuk otoritas gereja yang bersentuhan pada idiom agama dengan pesan bahwa bumi adalah datar, melainkan sebagai komposisi penyeimbang dalam menggeser konsepsi ptolomeus dari geo-sentris ke helio-sentris. Sebelum pada akhirnya dektrit Copernikus ini mengilhami cortex Cristhoper Colombus dalam pelayarannya. lalu kontruksi apa yang tuan bentuk dalam membingkai pecundang dan khalayak ramai itu? Bagaimana konsepsi dan mekanisme kerja sistem tersebut? Sehingga nanti nya mampu mengendalikan manusia dari luar dirinya? Tentu saja pertanyaan subtansial seperti demikian akan terus berkembang seiring pembaharuan pengetahuan, namun disisi lain perlu adanya sedikit jawaban guna meninggalkan jejak pemikiran yang akan terbaharukan. Pertama, perlu dipahami bahwa semesta ini merupakan susunan yang terpisah maknanya, yang mana kemudian mesti dipersepsi dan dielaborasi dalam mengkonstruksikan sistem kehidupan (pallopticon). Kedua, mesti adanya alat bantu (law and technologi) sebagai artifiliasi guna melepaskan kesadaran dan meniadakan pilihan manusia untuk menetralisir kesadaran aktif menjadi masif. Dan yang Ketiga, adalah fake and re-information guna mengukur dan mempolarisasi tingkat kesadaran dan pengalihan kesadaran itu pula. Maka dari itu perlu adanya kutub baru guna merespon produk pendisiplinan tersebut, tindakan-tindakan yang mesti diambil pun perlu di ukur secara signifikan guna mensolve terjadi genosystemisasi lebih jauh. Adapun tindakan tindakan tersebut penulis pinjam  dari buah hasil pemikiran Rene Descartes. Pada mula nya dalam perjalanan manusia sebagai subjek individu itu mesti menerima segala kualitas yang terbentuk, yang menurut mereka itu merupakan kebenaran, akan tetapi manusia perlu sesekali untuk meragukan kualitas sebagai kebenaran itu, karna bukan tidak mungkin itu merupakan kemungkinan-kemungkinan tercecer yang terlegitimasi secara kolektif.  Karnanya manusia perlu menerima segala jenis penilaian yang sudah ada sebagai pengetahuan pertama, akan tetapi mesti ada upaya untuk meragukan guna memastikan kembali kebenaran dan kepastian itu.  Bahwa Kualitas-kualitas yang sudah ada itu merupakan suatu proporsisi yang mesti diragukan kebenarannya guna menciptakan kemungkinan kemungkinan yang lebih dekat pada kebenaran. Katakan bahwa ini adalah ‘gelas’  pertanyaan nya kenapa lingkaran bervolume memiliki lengkungan sebagai penopang itu di beri kualitas berupa kata “gelas” kenapa tidak wadah saja? Atau mungkin mangkok air ? dalam pertanyaan dan keraguan itu manusia secara automaticly berprasangka lebih jauh guna menemukan kepastian nya, bahkan dalam medium lain pula sudah terjamin kesadaran nya oleh pikiran itu (cogito). Dengan kesadaran, skeptis, imaginasi, dan kontemplasi itu yang nantinya menjadi antitesa opini opini yang termatrikulasi oleh kekuasaan, dan karnanya manusia bisa lebih mendekat pada kepastian dan terlepas pada keterkungkungan pemikiran yang berorientasi pada produk ciptaan manusia itu sendiri dari salinan nilai nilai tertinggi (the secondary of antromosfistik), hal ini tervisualisasikan dalam Film Attack On Titan dalam pengertian kegagalan seekor manusia dari medium dalam yang mencoba mempersepsikan medium luar, kegagalan itu dihasilkan oleh  terhalangnya pengetahuan akibat tebing tinggi (batasan), yang mana batasan atau tebing itu adalah buah hasil manusia itu sendiri melalui kekuasaan.

Tuan dengan Kepentingan, Budak dengan anatomi, Tuhan dengan kebenaran absolut, Semesta serta Pengetahuan, Puan dan subur, Manusia artinya Kesadaran.

Daftar Pustaka 

The Principles of philoshopy

Rhapsodia Filsafat 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Environmental Ethics in Covid-19 Antrophocene Problems.

Secara fundamental, manusia telah memasuki fase baru dalam kehidupan. Deforestasi lingkungan semakin buruk merupakan hasil dari persentuhan ...